4 Tips Melakukan Diversifikasi Portofolio Saat Berinvestasi

  • Whatsapp

Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah salah satu teknik saat berinvestasi yang dilakukan dengan cara mengalokasikan dana investasi ke dalam beberapa instrumen investasi baik reksa dana, saham, emas,dan lainnya. Investor umumnya melakukan diversifikasi tidak hanya untuk memaksimalkan keuntungan tapi juga meminimalisir risiko.

Read More

Apabila terjadi penurunan kondisi pasar, maka tidak semua aset investasi yang dimiliki mengalami kerugian. Sebab teknik diversifikasi akan menjaga keseimbangan portofolio. Untuk itu, simak tips-tips melakukan diversifikasi portofolio di bawah ini.

Ketahui Tujuan Keuangan dan Toleransi Risiko

Tujuan keuangan dan toleransi risiko yang dimiliki dapat memengaruhi ketentuan diversifikasi portofolio. Karena diversifikasi berarti menyebar kepemilikan aset, maka aturannya hampir mirip saat kita hendak mulai berinvestasi.

Ini bertujuan untuk mengetahui target keuntungan yang harus didapatkan untuk mencapai tujuan tersebut. Jika portofolio didominasi oleh aset dengan risiko tinggi, maka akan lebih cepat mencapai target, terlebih lagi kalau nominalnya besar. Tetapi, kalau kinerjanya menurun di tengah jalan, bisa-bisa kamu butuh lebih banyak waktu untuk menunggu pasar rebound.

Sebaliknya, jika dalam portofolio terlalu banyak aset berisiko rendah, bisa jadi target akan lebih lama tercapai karena keuntungannya lebih rendah. Meski demikian, hal ini memungkinkan untuk target rampung dalam waktu yang sudah diperkiraan mengingat nilainya cenderung stabil.

Nah, biasanya profil risiko dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, pendapatan, jangka waktu, tujuan investasi, dan pemahaman investor tentang investasi itu sendiri. Dengan begitu, mengetahui profil risiko menghindari kita dari rasa stres apabila nilai investasi stuck di zona merah karena tidak kunjung rebound.

Selain itu berinvestasi sesuai profil risiko juga menimbulkan rasa nyaman karena alokasi investasinya sesuai dengan karakter diri sendiri.

Tentukan Aset dan Rasio yang Ingin Dialokasikan

Nah, kalau sudah mengetahui tujuan serta toleransi risiko, selanjutnya tentukan aset yang dipilih. Setiap aset memiliki karakternya sendiri-sendiri mulai dari tingkat risiko, potensi imbal hasil, dan jangka waktu. Oleh karena itu, sangat erat kaitannya dengan poin yang telah dipaparkan sebelumnya.

Sebagai informasi, contoh aset berisiko tinggi yaitu saham, reksa dana saham, P2P lending syariah Indonesia, komoditas, dan forex. Sedangkan aset berisiko rendah yaitu deposito, reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, emas, dan obligasi pemerintah.

Misalnya, kamu memiliki toleransi risiko tinggi dan ingin mengumpulkan dana pensiun. Maka perbanyak porsi aset yang punya potensi imbal hasil paling besar. Maka aset akan terlihat sebagai berikut:

60% saham | 30% P2P lending | 20% reksa dana

Perlu diingat bahwasanya tidak ada rumus pasti mengenai persentase aset dalam portofolio. Semua tergantung dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing individu. Ini juga jadi alasan penting mengapa menyontek portofolio milik orang lain sangat tidak dianjurkan.

Lakukan Diversifikasi Tiap Jenis Investasi

Selanjutnya, lakukan diversifikasi pada tiap jenis investasi yang telah dipilih. Sebagai contoh, apabila di portofolio terdapat saham, reksa dana dan P2P lending, maka bagilah modal investasi ke berbagai produk yang tercangkup dalam aset tersebut. Dengan cara seperti di bawah ini:

  • Diversifikasi saham dapat dilakukan dengan menyebar aset ke berbagai emiten.
  • Diversifikasi reksa dana dilakukan dengan menyebar aset ke berbagai produk reksa dana seperti reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.
  • Sedangkan diversifikasi P2P lending dilakukan dengan memilih pendanaan yang imbal hasilnya berbeda.

Inti daripada tahap ini adalah carilah investasi 2021 di sektor yang berbeda dengan tingkat return yang berbeda pula. Namun kembali diingatkan bahwa aset dengan tingkat pengembalian yang tinggi, umumnya jauh lebih berisiko. Ingat selalu dengan prinsip high risk, high return.

Lakukan Rebalancing Secara Teratur

Rebalancing adalah tindakan penyesuaian kembali alokasi portofolio sesuai dengan tujuan investasi maupun profil risiko. Volatilitas pasar menyebabkan alokasi portofolio dapat berubah sewaktu-waktu dari aset alokasi awal yang ditetapkan.

Misalnya, komposisi awal portofolio terdiri atas saham 60%, P2P lending 30%, dan reksa dana 20%. Beberapa waktu kemudian, reksa dana mengalami kenaikan dan komposisinya berubah menjadi 40%. Sehingga porsi aset saham dan P2P lending terkikis.

Maka portofolio memerlukan adanya penyesuaian kembali karena sudah tidak sesuai dengan profil risiko. Caranya dengan menjual sebagian aset reksa dana, lalu keuntungannya digunakan untuk membeli aset saham atau P2P lending.

Rebalancing portofolio sebaiknya dilakukan secara berkala. Setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali.

Setelah mengetahui tips-tipsnya, alangkah baiknya kamu terus mengikuti pergerakan pasar dan mempertajam kemampuan analisis, ya. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi jika terjadi penurunan kinerja. Sehingga kalian bisa segera melakukan diversifikasi portofolio.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *